Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Kantor Karesidenan Malang tahun 1940

Gambar
Sumber: JIKN Malang Foto kantor karesidenan`  pada tahun 1900 - 1970 di kota malang. Dibangun oleh arsitek Ir.M.B. Tideman Tahun 1936 sekarang gedung ini dipergunakan menjadi Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara Jalan Merdeka Selatan Kota Malang. Dalam foto terlihat suasana lingkungan sekitar kantor yang tertata rapi, mencerminkan peran karesidenan sebagai pusat administrasi pemerintahan di wilayah Malang pada masa itu. Gedung ini menjadi s imbol otoritas kolonial sekaligus bagian dari sejarah perkembangan tata kota Malang.  

Jalan Idjen Boulevard

Gambar
Sumber : JIKN Kota Malang Foto kondisi Jalan Idjen Boulevard (kini dikenal sebagai Jalan Ijen) pada masa kolonial akhir, sekitar tahun 1947–1950. Jalan ini dirancang sebagai kawasan elit dengan tata kota bergaya Eropa, ditandai oleh boulevard yang lebar, deretan pepohonan palem di bagian tengah, serta rumah-rumah besar bergaya Indis di sepanjang sisinya. Pada masanya, Idjen Boulevard merupakan simbol modernitas dan kemewahan Kota Malang, serta menjadi kawasan pemukiman kaum menengah atas, termasuk pejabat dan orang Belanda. Jalan Ijen menjadi kawasan bersejarah di Kota Malang yang dikenal karena keindahan arsitekturnya dan sering dijadikan lokasi berbagai kegiatan budaya serta car free day.  

Jalan Pembelanjaan Kayutangan

Gambar
Sumber : JIKN Kota Malang Foto ini memperlihatkan suasana kawasan perbelanjaan di Jalan Kayutangan, Malang pada akhir dekade 1940-an hingga awal 1950-an. Kayutangan dikenal sebagai pusat perdagangan dengan deretan pertokoan yang ramai dikunjungi. Dalam gambar terlihat aktivitas masyarakat yang melintas di bawah rindangnya pepohonan yang berjajar di tepi jalan. Kawasan ini menjadi salah satu ikon kota yang hingga kini tetap dipertahankan sebagai pusat aktivitas ekonomi dan budaya, meskipun mengalami berbagai perubahan fisik seiring perkembangan zaman.

Kantor Administrasi di Aloon-Aloon Malang tahun 1935

Gambar
Sumber: JIKN Malang Foto kantor administrasi yang dibangun di tengah tengah aloon aloon kota malang pada tahun 1935. Arsitekturnya memperlihatkan gaya semi modern yang mulai berkembang pada era kolonial akhir, dengan perpaduan elemen klasik dan desain fungsional. Kantor ini menjadi bagian dari tata ruang Aloon-Aloon Malang yang dikenal sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan sosial masyarakat. Dalam foto tampak suasana sekeliling yang tertata rapi dan mencerminkan kemajuan tata kota serta administrasi kolonial di wilayah Jawa Timur pada masa Hindia Belanda. Foto ini menjadi dokumen visual bersejarah yang memperlihatkan dinamika pembangunan kota dan simbol modernisasi birokrasi di Malang pada dekade 1930-an.

Kantor Polisi Malang tahun 1940

Gambar
Sumber: JIKN Malang Foto ini memperlihatkan Kantor Polisi di Malang pada tahun 1940. Bangunan kantor tampak bergaya kolonial dengan struktur yang kokoh dan tertata rapi, mencerminkan fungsi pentingnya sebagai pusat keamanan dan ketertiban di kota Malang pada masa Hindia Belanda. Di halaman depan terlihat beberapa penjaga atau petugas polisi yang sedang berjaga, sementara sebagian lainnya tampak berada di sisi kanan bangunan. Suasana di sekitar kantor terlihat cukup ramai, menggambarkan aktivitas dan kesiagaan aparat dalam menjalankan tugasnya. Foto ini menjadi dokumentasi visual bersejarah yang memberikan gambaran tentang organisasi keamanan dan suasana sosial di Malang pada awal abad ke-20, serta memperlihatkan bagaimana lembaga penegak hukum beroperasi di masa kolonial.  

Kantor Pos dan Telegraf di Malang tahun 1935

Gambar
Sumber: JIKN Malang Foto kantor pos yang tergabung dengan kantor telegraf di malang yang berdampingan, suasana tampak depan sangat ramai oleh kegiatan penduduk lokal sekitar.  Kehidupan yang terekam dalam foto ini mencerminkan keramaian pusat komunikasi dan layanan publik di kota Malang pada masa Hindia Belanda. Selain merekam wujud fisik bangunan, foto ini juga menjadi dokumen visual penting yang menggambarkan perkembangan sistem komunikasi modern dan mobilitas sosial masyarakat perkotaan pada awal abad ke-20 di Indonesia.  

Pecinan

Gambar
  Sumber : JIKN Malang Foto daerah pecinan dari sisi barat. Daerah ini menjadi pusat bermukim etnis tionghoa di kota Malang karena pada era kolonial Belanda, pemerintahannya mengasingkan etnis Tionghoa didalam satu kawasan tertentu, foto diabadikan tahun 1900-1970.

Kantor Pos Malang tahun 1940

Gambar
Sumber: JIKN Malang Foto suasana di area depan kantor pos terlihat beberapa aktivitas penduduk lokal seperti sebagian sedang berjalan, bersepeda, atau berinteraksi di sekitar jalan raya yang melintas di depan gedung. Pemandangan ini menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat Malang pada masa itu, ketika kantor pos menjadi salah satu pusat kegiatan publik dan komunikasi penting di kota. Foto ini juga merekam nuansa sosial dan arsitektural Malang tempo dulu, menjadi dokumentasi visual berharga mengenai perkembangan perkotaan dan aktivitas masyarakat pada awal abad ke-20  

Kantor Pos di Malang pada Malam Hari tahun 1937

Gambar
  Sumber: JIKN Malang Foto ini menampilkan suasana Kantor Pos Malang pada malam hari pada tahun 1937. Bangunan kantor pos tampak berdiri megah dengan arsitektur bergaya kolonial yang khas, diterangi oleh cahaya lampu jalan dan penerangan dari dalam gedung. Pencahayaan malam hari menimbulkan kesan hangat dan tenang, sekaligus menonjolkan detail fasad bangunan yang simetris dan kokoh. Di sekelilingnya terlihat suasana kota Malang tempo dulu yang masih lengang, mencerminkan kehidupan malam di masa Hindia Belanda.

Perumahan Di Kawasan Semeru

Gambar
Sumber : JIKN Kota Malang Foto perumahan di kawasan Semeru yang bertipe Villa dengan halaman yang luas seiring dibangunnya stadion Malang, pada tahun 1930. Perumahan ini sebagai sebuah strategi dalam mengakomodasi pertumbuhan populasi orang Eropa di Malang.   

Gedung Flora

Gambar
Sumber : JIKN Kota Malang Foto Gedung Flora yang difungsikan sebagai sebuah bioskop yang difasilitasi ruang bilyard dan digunakan oleh masyarakat melakukan kegiatan ekonomi yaitu membuka toko toko makanan dan cukur rambut, pada tahun 1928. Namun nama gedung Flora ini berganti setelah kemerdekaan menjadi gedung Wijaya Kusuma dan difungsikan tidak lagi sebagai bioskop melainkan sebagai gedung kesenian di Malang. 

Makam Belanda Di Sukun

Gambar
  Sumber : JIKN Kota Malang Foto Makam Belanda yang awalnya berada di daerah Klojen lalu dipindahkan di daerah Sukun, pada 26 April 1920. Saat ini makam ini menjadi makam umum umat kristen namun didalamnya masih dijumpai makan Belanda dan satu makam tentara Jepang yang dibangun oleh tentara Jepang di Indonesia pada tahun 1982.

Pertigaan Celaket

Gambar
Sumber : JIKN Kota Malang   Foto Pertigaan Celaket, pada tahun 1984. Tempat ini merupakan sebuah tempat yang pernah dikunjungi oleh seorang Belanda yang bernama Matinus Hoffman. Namun pada saat itu kawasan ini masih berupa kawasan hutan belantara yang luas, sampai warga pada saat itu masih melihat macan kumbang yang berkeliaran.

Sekolah Suster Ursulin

Gambar
  Sumber : JIKN Malang Gedung Sekolah Suster Ursulin di Tjelaket, Malang, Jawa Timur, yang sekarang dikenal dengan SMA Katolik Cor Jesu Malang, Sekolah Menengah Atas Katolik yang berlokasi di Kota Malang. Sekolah ini berlokasi di Jl.Jaksa Agung Suprapto 55 (dahulu lebih dikenal dengan Jl. Celaket). Sekolah ini didirikan oleh para biarawati Ursulin dengan tujuan menjalankan misi pemerataan pendidikan terutama bagi kaum pribumi di Kota Malang pada saat itu. 

Sekolah Kolese Santo Yusuf

Gambar
  Sumber : JIKN Malang Foto dari sisi samping sekolah Kolese Santo Yusuf. Gedung ini dibangun Tahun 1922 digunakan untuk beutrale Schoolvereneeging, Europese Lagere School sampai Tahun 1947. Gedung ini pernah mengalami insiden pembakaran  oleh pejuang anti Belanda. Pada tanggal 21 Februari 1951 gedung ini resmi digunakan sebagai misi Katolik untuk Sekolah Kolese Santo Yusuf.

Gerbang Pecinan

Gambar
  Sumber : JIKN Malang Foto tampak depan kawasan pecinan yang dibangun sebuah gerbang khas arsitektur Tionghoa setinggi 12 meter dengan 17 meter. Bangunan ini dibangun sebagai penanda kawasan pemukiman etnis tionghoa di Kota Malang pada era kolonial Belanda.

Jalan Perbelanjaan Pecinan

Gambar
  Sumber : JIKN Malang Foto daerah pusat perbelanjaan pecinan yang menjadi pusat perbelanjaan kota malang pada tahun 1947. Kawasan ini Dibangun untuk meningkatkan aktivitas ekonomi kaum tionghoa di era kolonial Belanda.

Rumah Sakit Lavalette

Gambar
  Sumber : JIKN Malang Foto Rumah Sakit Lavalette  yang terletak di dekat lintasan kereta api kawasan Celaket yang masih asri dan sejuk hingga sekarang. Nama ini berasal dari G. Ghr. Renaldel de Lavalette, pemilik sekaligus pendiri klinik. Pada tahun 1918, beliau mendirikan Yayasan Stichting Voor Malangsche Verpleging sebagai dasar pembangunan rumah sakit ini.

Hotel YMCA

Gambar
  Sumber : JIKN Malang Foto Gedung yang kini menjadi Bank Central Asia (BCA) dulunya adalah Hotel YMCA yang dibangun pada tahun 1930 oleh biro arsitek Karel Bosh. Sebelumnya, lokasi ini pernah ditempati oleh Hotel Mabes dan Malangsche Apotheek. Pada masa itu, Hotel YMCA menjadi jaringan hotel internasional pertama di Malang, dengan keistimewaan pemandangan ke arah Gunung Kawi yang dikenal sebagai Putri Tidur.

Gedung Maconiece Lodge

Gambar
  Sumber : JIKN Malang Gedung ini dibangun pada tahun 1935 oleh arsitek Ir. Mulder dengan gaya arsitektur Nieuw Bouwen. Pada awal kemerdekaan, gedung ini pernah digunakan sebagai kantor Radio Republik Indonesia (RRI). Selanjutnya, bangunan bersejarah ini beralih kepemilikan dari Maconieke Lodge dan sempat berganti nama menjadi Malang Inn serta Hotel Graha Cakra. Kini, pemilik aset mengganti nama menjadi The Shalimar Boutique Hotel, yang masih berfungsi sebagai hotel hingga sekarang.

Hotel Astor

Gambar
Sumber : JIKN Malang Foto Hotel Astor yang dibangun sekitar tahun 1930 pada masa pengembangan Bouwplan V (Rencana Pengembangan Kota ke-5). Lokasi hotel berada tepat di depan Stasiun Malang, yang pada saat itu merupakan pusat keramaian dan kegiatan olahraga masyarakat.

Hotel Emma

Gambar
  Sumber : JIKN Malang Foto Hotel yang terletak di daerah Pertukangan dekat Klenteng, telah berdiri sejak tahun 1916. Foto ini diambil sekitar tahun 1930, memperlihatkan suasana masyarakat yang pada masa itu masih banyak menggunakan dokar sebagai alat transportasi.

Hotel Palace

Gambar
   Sumber : JIKN Malang Foto Hotel Palace yang dibangun pada tahun 1915. Sebelumnya bernama Hotel Jansen sejak tahun 1850. Pada tahun 1947, saat peristiwa Malang Bumi Hangus, hotel ini dipakai sebagai tempat sementara perpindahan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sekarang dikenal sebagai Hotel Pelangi.  

Jalan Celaket

Gambar
  Sumber : JIKN Kota Malang Foto jalan Celaket dari arah utara menuju Kayutangan dan alun-alun, pada tahun 1940. Jalan ini menjadi jalur transportasi yang menghubungkan ke berbagai wilayah di kota Malang, diantaranya adalah daerah Turen, Dampit dan Tumpang pada saat itu. Tidak hanya transportasi seperti mobil dan sepeda motor melainkan juga dilalui oleh kereta Trem dimana terdapat jalur kereta disitu.

Pacuan Kuda Simpang Balapan

Gambar
  Sumber : JIKN Kota Malang Foto proses dibangunnya pacuan kuda terbesar diseluruh jawa timur di jalan Ijen mulai depan gereja Ijen sampai bundaran Ijen, pada tahun 1936. Tempat ini merupakan tempat yang digemari orang Belanda pada saat itu sebagai tempat rekreasi. Pada tempat ini pula pernah diselenggarakan Jambore Kepanduan Sedunia yang dihadiri oleh puluhan peserta dari luar negeri. 

Taman Ijen

Gambar
  Sumber : JIKN Kota Malang Tahun 1924 Belanda berencana memecah keramaian di Kota Malang dengan membuat jalan dari Jalan Kahuripan sampai Stadium. Untuk memperindah kawasan tersebut dibuatlah beberapa taman, antara lain Taman Slamet, Taman Kunir dan Taman Ijen. Pemandangan diatas adalah di depan museum Brawijaya sekarang berada.

Ijen Boulevard

Gambar
  Sumber : JIKN Kota Malang Pada perencanaan kota (Boumplan) ke Lima, Pemerintah Belanda memecah keramaian Jalan Kayutangan dengan membangun jalan arah Timur Barat, dimulai dari Stasiun Kertanegara samapai dengan Stadium Gajayana. Untuk melengkapi kawasan didaerah stadium dibangun pula perumahan yang dikhususkan untuk Pejabat Pemerintahan Belanda yaitu kawasan Idjen Boulevard.

Kayutangan 1936

Gambar
  Sumber : JIKN Kota Malang Kawasan Kayutangan di Tahun 1936 adalah kawasan yang paling ramai di Kota Malang. pada saat itu kawasan Bisnis hanya ada 2 tempat, Kawasan Kayutangan Dan Kawasan Pecinan. Kawasan ini identik dengan pertokoan milik Belanda. Banyak sekali sentra perdagangan yang langsung cabang dari Batavia saat itu.

Jalan Kayutangan

Gambar
  Sumber : JIKN Kota Malang Jalan Kayutangan dulunya sangat dikenal karena satu-satunya jalan yang menghubungkan jalan dari Surabaya arah Blitar. Jalan ini juga dikenal sebagai jalan pita karena keberadaannya memanjang utara selatan. Beberapa kejadian penting pernah terjadi di jalan ini tahun 1900 sebagai persiapan upacara pembuatan Kota Malang dan Tahun 1947 saat agresi militer.